4 Posisi Seks untuk Cegah Ejakulasi Dini Menggunakan Durex Performa, Yuk Coba Malam Ini!


Oleh: Inez Kristanti, M.Psi., Psikolog Klinis Dewasa
Masa menjelang pernikahan merupakan momen yang membahagiakan, menegangkan, sekaligus penuh tanda tanya. Apakah kehidupan pernikahan akan seperti yang dibayangkan sebelumnya? Apakah seperti yang ditampilkan di televisi atau media? Apakah dengan pengetahuan yang saya miliki sebelumnya saya bisa memberikan cinta terbaik bagi pasangan saya? Dan salah satu topik yang biasanya menimbulkan pertanyaan adalah terkait topik seksualitas.
Banyak pasangan yang merasa bahwa persoalan hubungan seksual adalah persoalan yang perlu dihadapi dan dibicarakan setelah pernikahan saja, terutama bagi mereka yang memilih untuk melakukan hubungan seksual pertama setelah mengucap janji setia. Tetapi, benarkah demikian? Menunda hubungan seksual apakah sama artinya dengan tidak mempersiapkannya sama sekali? Tentunya tidak.
Pengalaman saya bertemu dengan klien di ruang praktik membantu saya semakin memahami pentingnya mempersiapkan terkait seksualitas sebelum pernikahan, walaupun pasangan tersebut memutuskan untuk tidak melakukan hubungan seksual sampai menikah. Kita tidak dapat berasumsi bahwa kita dan pasangan kita memiliki pengetahuan seksual dan familiaritas terkait isu seksualitas yang cukup baik sehingga “malam pertama” bisa berjalan secara alami dan instinctual. Pada kenyataannya–khususnya di Indonesia–banyak orang yang sejak kecil disosialisasikan bahwa seks merupakan sesuatu yang tabu, jorok, sehingga sepanjang dua, tiga, atau empat dekade kehidupannya, isu seksualitas tidak pernah tersentuh olehnya. Bayangkan, jika begitu keadaannya, bagaimana kita bisa expect bahwa semua orang akan bisa secara alami memahami apa yang perlu ia lakukan, dan terutama, merasa nyaman melakukan aktivitas seksual di malam pertama?
Agar mudah dipahami, saya mau menganalogikan persiapan malam pertama ini dengan aktivitas memasak: “Cooking your first night”. Seperti halnya masakan, cobalah bayangkan bahwa membicarakan aktivitas seksual untuk memberikan cinta terbaik kepada pasangan pun ada makanan pembuka (appetizer), makanan utama (main course), dan makanan penutup (dessert).
Membaca judul artikel ini, mungkin sebagian dari kalian berpikir bahwa “Wah, kalau begitu ada aturan-aturan tertentu yang perlu saya ikuti agar malam pertama saya bisa sukses dan saya bisa memberikan cinta terbaik untuk pasangan saya.” Akan tetapi, justru sebaliknya. Kita perlu pahami bahwa TIDAK ADA aturan yang universal, atau “benar” maupun “salah” dalam menjalani “malam pertama”.
Ingatlah bahwa yang penting adalah kita merasa nyaman dan menikmati pengalaman kita apa adanya, tidak perlu menuntut diri kita untuk menjadi “A”. atau mencapai “B”, atau menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap malam pertama. Kita memiliki banyak waktu di masa depan untuk mencoba hal-hal yang belum dilakukan atau didapatkan pada malam pertama. Pada dasarnya, cinta terbaik tidak harus selalu sempurna, namun selalu berusaha. Selamat mencoba!