Breadcrumbs

Birth Control Mythbusting: Mendobrak Mitos Seputar Kontrasepsi

Oleh: Inez Kristanti, M.Psi., Psikolog Klinis Dewasa

 

Saya cukup sering dihadapkan dengan pertanyaan seperti ini, “Mbak, kalau sudah pakai pil KB saya gak perlu pakai kondom lagi, kan?”

Jawaban saya pun, “Tujuan kamu untuk apa dulu? Untuk mencegah kehamilan atau mencegah penularan penyakit menular seksual?”

Sang penanya pun menjawab, “Ya dua-duanya, Mbak.”

Saya yang mendapatkan pertanyaan ini pun berpikir, “Wah, perlu nih diluruskan terkait pemahaman orang-orang mengenai metode kontrasepsi dan kegunaannya.”

Berikut empat mitos terkait kontrasepsi yang perlu diluruskan, kita bahas satu per satu.

 

1. “Saya tidak butuh menggunakan kontrasepsi kalau hanya berhubungan seksual pada saat saya tidak subur.”

Salah satu birth control “alami” yang terkadang dipilih adalah sistem kalender, yang artinya pencegahan kehamilan dilakukan dengan mengamati masa subur dan tidak subur dari perempuan, sehingga hubungan seksual HANYA dilakukan pada saat masa tidak subur.

Cukup? Belum tentu. Karena efektivitas metode ini adalah 75-99% (Carroll, 2010). Kok range-nya besar sekali? Metode ini efektivitasnya berbeda-beda di masing-masing perempuan. Perempuan yang siklus menstruasinya teratur, masa suburnya lebih bisa diprediksi secara akurat dibandingkan perempuan yang siklus menstruasinya tidak teratur.

Angka efektivitas ini juga tidak sebaik kondom (kondom lateks: 85-98%, kondom perempuan: 79-95%), birth control pills (92-99.7%), serta metode intrauterine (IUD dan IUS; 99.2-99.9%; Carroll, 2010). Sehingga kesimpulannya adalah, untuk efektivitas yang lebih baik, tetapi dibutuhkan metode kontrasepsi lain selain hanya mengandalkan system kalender.

 

2. Penggunaan birth control pills dalam waktu yang berkepanjangan akan membuat mandul atau mengurangi fertilitas

Asumsi ini keliru karena bahkan kalau kita lalai mengonsumsi birth control pills meskipun satu hari saja, efektivitas pil ini akan menurun yang artinya adalah, angka kesuburan akan meningkat (Carroll, 2010). Semudah itu? Ya, bisa jadi.

Sehingga, asumsi bahwa birth control pills akan membuat kita menjadi mandul tentu keliru. Pada beberapa perempuan (khususnya perempuan yang siklus menstruasinya tidak teratur sebelum mengonsumsi pil), kesuburan memang baru akan benar-benar kembali setelah beberapa lama berhenti mengonsumsi pil, namun bukan berarti tidak akan kembali seperti semula.

Selain, itu beberapa orang juga menyalahkan birth control pills sebagai penyebab dari ketidaksuburannya karena mungkin pada saat ia berhenti mengonsumsinya dan memutuskan untuk berkeluarga, ia sudah berada dalam usia yang lebih lanjut (misalnya akhir 30 tahun-an). Masa ini merupakan masa saat kesuburan perempuan memang mulai berangsur menurun secara alami. Selain itu, ketika perempuan tidak mencoba untuk hamil, mereka juga mungkin tidak terlalu peduli dan mencari informasi terkait penyebab-penyebab infertilitas yang alami. Mereka juga mungkin belum merasa butuh untuk memeriksakan kondisi kesuburannya. Mereka baru mencari tahu tentang informasi ini setelah berhenti menggunakan pil, dan hal ini mungkin menyebabkan mereka “menyalahkan” konsumsi pil untuk kondisi ketidaksuburan mereka.

 

3. Kondom hanya untuk pasangan yang belum menikah

“Udah nikah, ngapain pakai kondom?” Banyak orang yang beranggapan bahwa penggunaan kondom hanya eksklusif bagi orang yang belum menikah, maka itu kondom sering diasosiasikan dengan perilaku seks di luar pernikahan yang tidak diterima oleh sebagian orang. Tetapi, banyak yang tidak tahu bahwa kondom tetap menjadi pilihan bagi pasangan yang sudah menikah. Mengapa?

  • Kondom merupakan birth control yang sifatnya noninvasif, artinya tidak ada sesuatu permanen yang diubah dalam diri orang yang menggunakan. Ini bisa menjadi opsi bagi pasangan yang ingin mencegah kehamilan secara sementara.
  • Penggunaan kondom menunjukkan bahwa tanggung jawab untuk mencegah/menunda kehamilan tidak hanya ada pada salah satu pihak dalam hubungan saja, dan ini dapat lebih mengindikasikan adanya kesetaraan dalam hubungan. Mengapa? Pertama, terdapat kondom laki-laki dan kondom perempuan. Kedua, kondom bisa dibawa atau disiapkan oleh siapa saja di dalam hubungan tersebut. Hal ini tentunya berbeda dengan pilihan birth control lainnya dimana perubahan perlu dilakukan kepada salah satu pasangan saja (misalnya, konsumsi pil merupakan sepenuhnya tanggung jawab perempuan dan vasektomi merupakan sepenuhnya tanggung jawab laki-laki).

4. Semua alat kontrasepsi bisa membantu mencegah penularan penyakit menular seksual

Nah, poin ini adalah untuk menanggapi komentar yang mengawali artikel ini. Diperhatikan baik-baik ya:  pencegahan kehamilan dan pencegahan penularan penyakit menular seksual adalah dua hal yang berbeda. Tidak semua metode yang bisa mencegah kehamilan juga dapat mencegah penularan penyakit menular seksual. Di antara metode birth control, hanya kondomlah yang bisa membantu mencegah penularan penyakit menular seksual.

 

 

References:

Carroll, J. L. (2010). Sexuality now: Embracing diversity (ed. 3). Belmont, CA: Wadsworth.