Breadcrumbs

Fakta di Balik 5 Mitos tentang Seks

Oleh:  Inez Kristanti, M.Psi., Psikolog – Psikolog Klinis Dewasa

 

Bicara tentang hal yang tabu di masyarakat seperti seks, tentunya tak jarang kita mendengar mitos-mitos tentang seks di masyarakat yang mungkin pada akhirnya membuat kita menjadi lebih berjarak dengan topik ini, dan juga memiliki pemahaman yang keliru tentangnya. Yuk kita tengok beberapa mitos yang sering didengar di masyarakat tentang seks, tapi sebenarnya tidak didukung oleh fakta yang ada.

1. Perempuan tidak bisa orgasme

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa jauh lebih sedikit yang kita ketahui tentang orgasme perempuan dibandingkan dengan orgasme laki-laki. Hal ini mungkin disebabkan dengan konsepsi keliru bahwa seks itu hanyalah milik “dunia” laki-laki saja, sehingga peran perempuan “hanyalah” sebagai pemuas hasrat seksual laki-laki. Tidak sedikit pula perempuan yang tidak tahu bahwa seks juga bisa enjoyable untuk mereka, bahkan mereka juga bisa orgasme.

Jadi bagaimanakah orgasme perempuan itu? Berbeda dengan orgasme laki-laki, orgasme perempuan tidaklah selalu ditandai dengan keluarnya cairan. Memang ada perempuan yang mengeluarkan cairan pada saat orgasme, tetapi tidak semua.

Kemudian, perlu dipahami bahwa tidak semua perempuan mengalami orgasme lewat penetrasi di vagina. Hanya 25% perempuan yang mengatakan bahwa mereka selalu bisa mencapai orgasme lewat penetrasi, sementara sepertiga dari perempuan mengatakan jarang atau bahkan tidak pernah mengalami orgasme lewat penetrasi (Lloyd, 2005). Oleh karena itu, tidak perlu mematok ekspektasi yang kurang realistis tentang orgasme lewat penetrasi, atau bahkan orgasme dalam waktu yang bersamaan dengan pasangan saat sedang terjadi penetrasi (ini lebih jarang terjadi). Cobalah pusatkan lebih banyak perhatian pada pusat kenikmatan seksual perempuan, yaitu klitoris yang terletak di atas lubang vagina.

2. Semakin sering melakukan hubungan seksual, maka semakin longgar vagina perempuan

Ini merupakan salah kaprah yang sering terjadi, padahal sebenarnya tidak ada hubungan antara frekuensi melakukan hubungan seksual dengan ukuran vagina. Seperti halnya otot-otot mulut kita yang mau kita tarik bagaimanapun akan kembali seperti semula, otot vagina perempuan juga sangat elastis. Memang ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi elastisitas vagina, seperti halnya bertambahnya usia atau persalinan, namun frekuensi melakukan hubungan seksual bukanlah salah satunya.

3. Sering masturbasi bisa membuat lutut laki-laki “kopong”

Ini merupakan salah satu mitos yang seringkali diberitahukan kepada anak laki-laki untuk menakuti-nakuti atau melarangnya untuk melakukan masturbasi. Tapi apakah benar begitu? Coba kita lihat penjelasannya.

Kondisi medis yang mendekati istilah lutut kopong adalah osteoarthritis. Osteoarthritis sendiri adalah salah satu bentuk penyakit arthritis yang menyerang persendian, biasanya disebabkan karena kelebihan berat badan, cedera, aktivitas fisik yang berlebihan, atau gen. Pada kenyataannya, produksi cairan sendi pada lutut tidak ada hubungannya dengan produksi cairan sperma. Sehingga, melakukan masturbasi juga tidak ada hubungannya dengan kondisi persendian lutut.

 4. Selama ejakulasi tidak dilakukan di dalam vagina, maka tidak mungkin terjadi kehamilan atau penularan infeksi menular seksual

Saya cukup sering mendengar perempuan yang merasa tidak memiliki risiko untuk hamil karena pasangannya melakukan ejakulasi di luar. Tak jarang pun mereka juga merasa tidak perlu memeriksakan kesehatan seksualnya karena ejakulasi yang dilakukan di luar tersebut, padahal mereka melakukan seks yang tidak aman tanpa kondom. Kedua hal ini keliru.

Pertama, jika seks dilakukan tanpa pengaman, kehamilan masih bisa terjadi meskipun ejakulasi tidak dilakukan di dalam vagina. Kemungkinannya memang kecil, tetapi tidak mustahil. Mengapa? Karena sebelum ejakulasi berlangsung, pada saat terjadi hubungan seks, penis dapat mengeluarkan cairan pre-ejaculatory yang mungkin mengandung sperma walaupun dalam jumlah sedikit. Sehingga untuk bisa lebih merasa aman, sebaiknya seks dilakukan dengan kondom jika memang belum berencana untuk memiliki anak.

Kedua, infeksi menular seksual tidak hanya ditularkan lewat cairan semen yang dikeluarkan laki-laki pada saat ejakulasi saja, tetapi juga lewat pertukaran cairan yang dikeluarkan penis atau vagina pada saat melakukan hubungan seksual. Oleh karena itu, anggapan bahwa ejakulasi di luar vagina akan membuat diri kita aman dari penularan infeksi menular seksual adalah sangat keliru.

5. Great sex is effortless

Banyak orang beranggapan bahwa seks adalah sesuatu yang sifatnya instinctual sehingga setiap orang pasti akan bisa melakukannya dengan baik tanpa memerlukan pengetahuan atau pengalaman sebelumnya. Hal ini juga keliru. Mengapa?

Pertama, belum tentu semua orang sudah mengenal organ seksual dan titik kepuasan seksualnya masing-masing dengan baik. Ingat, kita seringkali disosialisasikan bahwa seks merupakan hal yang tabu sehingga ini mungkin menjadi tantangan bagi kita untuk mempelajari tentang ketubuhan kita sendiri dan mengenal organ-organ seksual kita. Ibarat menyetir mobil, bagaimana kita bisa menyetir dengan baik kalau kita tidak mengenal fungsi dari masing-masing bagian mobil tersebut? Sehingga diperlukan usaha juga untuk mau mengenali tubuh dan belajar tentang apa yang menyenangkan bagi tubuh kita.

Kedua, apa yang kita sukai belum tentu juga secara otomatis disukai atau diketahui oleh pasangan. Perlu ada komunikasi tentang apa yang kita sukai, what works for us, secara terbuka dengan pasangan sehingga kita bisa saling memahami. Great sex bukanlah selalu pada saat apa yang kita sukai itu sama persis dengan preferensi pasangan, tetapi ketika memang masing-masing orang di dalam hubungan tersebut mau mendengarkan, memahami, dan berusaha untuk membuat seks menjadi sama-sama menyenangkan untuk dirinya sendiri dan pasangannya.