Breadcrumbs

Mana Metode Kontrasepsi yang Lebih Baik: IUD atau Kondom?

Oleh: dr. Devia Irine Putri dari Tim Redaksi Klikdokter

 

Baik IUD maupun kondom punya ‘penggemarnya’ masing-masing. Antara keduanya, mana metode kontrasepsi yang lebih baik?

 

Dua dari metode yang paling populer sebagai metode pencegah kehamilan adalah kontrasepsi interaurine device (IUD) atau alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dan kondom. Di antara keduanya, mana yang lebih baik?

Masalah kesehatan reproduksi wanita maupun pria masih menjadi perhatian di dunia kesehatan. Ini karena semakin meningkatnya angka kehamilan dan kelahiran, begitu juga dengan penyebaran infeksi menular seksual (IMS).

Kontrasepsi telah lama diandalkan untuk mencegah kehamilan dan penyebaran penyakit menular seksual. Secara garis besar, ada dua cara kerja kontrasepsi: hormonal dan non hormonal.

Contoh kontrasepsi hormonal antara lain pil KB, KB suntik, KB implan, dan AKDR. Ragam kontrasepsi non hormonal yang paling populer adalah kondom, AKDR non hormonal, dan kontrasepsi mantap seperti vasektomi dan tubektomi. Selain dua jenis kontrasepsi tersebut, ada juga kontrasepsi alami yang cukup banyak diminati, yaitu dengan melakukan sanggama terputus, KB kalender, dan amenore laktasi (proses menyusui).

 

Mengenal IUD lebih jauh: kelebihan dan kekurangannya

IUD atau AKDR adalah salah satu alat kontrasepsi yang banyak dijadikan pilihan. Sesuai dengan namanya, alat kontrasepsi ini harus dimasukkan ke dalam rahim. Daya tahannya bisa dalam jangka waktu cukup lama.

IUD umumnya berbentuk seperti batang plastik kecil dengan dua lengan yang membentuk seperti huruf T, serta dililit benang untuk membantu mengontrol letaknya di dalam rahim. Ada dua jenis IUD di Indonesia, yaitu yang mengandung hormon levonorgestrel (LNG) dan yang tidak mengandung hormon (CuT-308A).

Efektivitas IUD mencapai 99,5 persen dalam mencegah kehamilan. IUD mampu menghambat proses implantasi. Caranya adalah dengan menimbulkan reaksi peradangan lokal pada rahim dan mengentalkan cairan pada lendir mulut rahim, sehingga pergerakan sperma terhambat.

Meski punya efektivitas tinggi dalam mencegah kehamilan dan bisa bertahan dalam jangka waktu lama, tetapi IUD juga tak lepas dari kekurangan. Beberapa keluhan yang dilaporkan antara lain: sakit kepala, jerawat, pegal, nyeri berlebih di perut dan pinggang, perdarahan haid lebih banyak, risiko terkena infeksi radang panggul lebih tinggi, serta tidak melindungi pemakainya dari IMS.

IUD juga bisa mengganggu kenikmatan hubungan seks, yang cukup banyak dikeluhkan pria. Pria melaporkan rasa tidak nyaman karena ‘menyentuh’ benang di ujung mulut rahim. Biasanya, ini bisa diatasi dengan memotong benang lebih pendek.

 

Metode kontrasepsi alternatif: kondom

Alasan di atas kadang menjadi pertimbangan dalam memilih metode kontrasepsi. Pemasangan IUD yang tidak tepat atau lupa jadwal follow-up terkadang menjadi faktor penyebab seorang wanita hamil meskipun sudah dipasangkan IUD.

Jika ragu untuk memasang IUD, Anda bisa menggunakan alternatif kontrasepsi barrier seperti kondom. Bukan cuma murah dan mudah didapat, kondom minim risiko karena tidak memberikan efek samping, serta paling unggul dalam mencegah penularan virus dan bakteri, serta IMS.

Jika digunakan dengan sempurna, kondom bisa mencegah kehamilan hingga 98 persen. Untuk mendapatkan manfaatnya secara optimal, cara penggunaannya harus tepat.

Jangan sampai kondom rusak atau bocor dan tidak kedaluwarsa. Pilih kondom berbahan lateks alami, sudah teruji, dan punya fitur easy-on shape. Anda dan pasangan juga bisa memilih ketebalan kondom, ukuran, tekstur, atau menambahkan pelumas dan suasana yang menyenangkan supaya seks aman tanpa mengurangi kepuasan.

Baik kontrasepsi IUD ataupun kondom sama-sama bisa mencegah kehamilan. Sesuaikan pilihan metode kontrasepsi dengan kondisi, kebutuhan, serta kesepakatan dengan pasangan. Libatkan juga dokter Anda. Namun, jika pertimbangan utamanya adalah perlindungan dari IMS dan efek samping hormonal, kondom bisa menjadi pilihan tepat.

#Eduka5eks

 

(RN/ RH)