Breadcrumbs

Sex Education untuk Anak Muda: Mendidik atau Menjerumuskan?

Oleh: Inez Kristanti, M.Psi., Psikolog Klinis Dewasa

 

Setiap saya saya mengampu mata kuliah Human Sexuality (Seksualitas Manusia) di salah satu universitas swasta di Jakarta, salah selalu bertanya kepada mahasiswa yang saya ajar: “Siapa yang sewaktu bersekolah mendapatkan pendidikan seksualitas (sex education)?” Dari sekitar 30 mahasiswa yang terdaftar, setiap semesternya saya hanya melihat 3-5 tangan terangkat.

Jumlah ini tidak mengejutkan untuk saya. Sesuai ekspektasi. Kemudian saya tanyakan kembali kepada 3-5 orang yang mengangkat tangan tersebut, “Dalam pendidikan seksualitas (sex education) yang kalian dapatkan di sekolah, apa saja yang diajarkan?”

Setiap semester jawabannya bisa bervariasi, namun kurang lebih seperti ini: “Jangan berhubungan seksual sebelum menikah karena bisa terkena penyakit seksual dan hamil. Kami diperlihatkan gambar-gambar penyakit seksual yang menyeramkan.” Lalu saya bertanya lagi kepada mereka, “Menurut kalian, apakah dengan diberitahukan seperti itu akan membuat mereka tidak melakukan hubungan seksual?”

Mahasiswa saya, yang kisaran usianya adalah 19-21 tersebut, terkekeh kemudian menjawab, “Enggak, Mbak. Tetep penasaran lah.”

 

Abstinence-Only vs. Comprehensive Sex Education

Saya pun mencari tahu jawaban dari pertanyaan saya sendiri tersebut. Seperti yang diduga oleh mahasiswa saya, Santelli dkk. (2017) dalam penelitiannya menemukan bahwa abstinence-only education atau pendidikan seksualitas (sex education) yang secara eksklusif hanya mengajarkan kepada remaja untuk tidak melakukan hubungan seksual sampai menikah tidak berhasil dalam menurunkan angka kehamilan dan penularan penyakit menular seksual pada remaja. Dengan kata lain, mereka tetap merasa penasaran terhadap seks konsekuensinya adalah cenderung melakukan hubungan seksual tersebut secara tidak aman dibandingkan dengan remaja yang mendapatkan pendidikan seksualitas secara komprehensif (melibatkan pengetahuan tentang kontrasepsi dan akses untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan seksual).

Remaja yang mendapatkan pendidikan seksualitas (sex education) secara komprehensif akan mampu membuat keputusan yang bertanggungjawab tentang seksualitasnya sendiri dan jika mereka memutuskan untuk melakukan hubungan seksual, mereka cenderung menggunakan pengaman dan memeriksakan kesehatan seksual mereka secara rutin ke dokter.

 

Komponen Pendidikan Seksualitas (Sex Education) yang Komprehensif

Adapun hal-hal penting yang perlu menjadi komponen pendidikan seksualitas yang komprehensif antara lain adalah:

  • Pendidikan seksualitas perlu diberikan sesuai dengan usia anak/remaja
  • Informasi akurat terkait abstinence (pilihan untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah) dan juga kontrasepsi
  • Pencegahan penularan infeksi menular seksual dan kehamilan yang tidak direncanakan
  • Keterampilan komunikasi, penolakan, dan negosiasi seksual

Saya memahami bahwa mungkin muncul kekhawatiran di kepala orang tua maupun sekolah, yaitu kalau anak/remaja diberikan pendidikan seksualitas maka mereka justru akan “terjerumus” untuk mencoba. Inilah bagian dalam persepsi yang menurut saya perlu diluruskan.

Memberikan pendidikan seksualitas kepada anak/remaja bukanlah sekedar memberikan informasi tentang apa seks dan apa itu kontrasepsi, tetapi menumbuhkan perasaan dan kemampuan bertanggungjawab dalam diri anak/remaja untuk membuat keputusan seksualnya berdasarkan informasi yang kredibel dan nilai-nilai yang ia anut. Untuk dapat menumbuhkan hal tersebut, pemberi informasi (misalnya orangtua) perlu:

  1. Memiliki sikap yang tidak berjarak terhadap seksualitas
  2. Mau belajar berkomunikasi dua arah dengan anak/remaja. Bukan hanya memberikan informasi yang sifatnya menyuruh, tetapi juga mau mendengarkan pendapat anak dan menstimulasi keingintahuan dan pertanyaan-pertanyaan dari anak/remaja yang dapat berujung kepada diskusi dua arah.
  3. Mau memposisikan diri sebagai teman anak/remaja dalam membuat keputusan seksual yang bertanggungjawab

Pada akhirnya, kita mau dilihat menjadi sosok yang kredibel tetapi juga approachable (bisa didekati) dalam memberikan pendidikan seksualitas (sex education). Perspektif yang menakut-nakuti, seperti yang disebutkan oleh mahasiswa saya di awal tulisan ini, justru akan semakin membuat anak/remaja menjadi takut mencari informasi kepada kita, dan justru berusaha mendapatkan informasi tersebut dari sumber-sumber yang kurang terpercaya (misalnya pornografi). Jadilah teman dan sahabat remaja dalam mengeksplorasi pengetahuan dan nilai-nilainya tentang seksualitas, sehingga generasi muda Indonesia bisa menjadi generasi yang cerdas dan juga bertanggungjawab.

 

 

References:

Santelli, J. S., Kantor, L. M., Grilo, S. A., Speizer, I. S., Lindberg, L. D., Heitel, J., . . ., Ott, M. A. (2017). Abstinence-only-until-marriage: An updated review of U.S. policies and programs and their impact. Journal of Adolescent Health, 61(3), 273-280.